Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Februari 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (7) - end.

..
hari ini samapailah aku dan kuda putihku digerbang kota negeri selatan. kalau aku tak salah, kata Raja hari ini adalah hari ulangtahun sang puteri. suara didalam kota terdengar keras hingga diluar tembok pembatas kota dan hutan. sepertinya ribuan rakyat sudah dengan setia menanti dan mempersiapkan kejutan untukmu, ya. mungkin saja.
aku tersenyum.
"akhirnya aku sampai juga." gumamku.
aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang kota ini. gerbang yang besar telah menyambutku di depan. kedua penjaga yang ramah nampaknya sudah tak asing bagiku. mereka sering menemui Raja sewaktu mendapat tugas untuk membawa surat ataupun hanya membawa beberapa barang yang Raja negeri selatan inigin berikan pada Raja. aku mulai melangkah, aku berjalan disamping kuda putihku. aku melihat disekelilingku, rumah-rumah penduduk disepanjang jalan menjuju pusat kota amat ramai dengan hiasan warna-warni untuk menyambut hari ini, hari ulang tahun puteri. diujung jalan aku melihat poster besar wajahmu, puteri. dan ucapan kecil selamat ulangtahun dari seluruh warga kota. aku yakin, hari ini akan menjadi hari bahagiamu.

ayahmu menyambutku. mungkin aku belum berkenalan dekat dengan beliau. aku telah disambut denga luar biasa oleh warga kotamu. hari ini. saat ini aku duduk bersama lima pemuda yang seperti anak gembala itu katakan. mereka selamat rupanya ketika melewati hutan itu.
aku melihatmu duduk di sebelah kiri ayahmu, wajah elokmu dengan jelas aku lihat kembali hari ini, setelah setelahs ekian lama kita tidak bertemu. aku tersenyum memandangmu. aku tahu ini bukan akhir dari perjalanan yang sesungguhnya. ini adalah awal.
sejenak sebuah pikiran kecil mengelilingi otakku, bertanya, bagaimana jika saat itu aku memilih menyerah dan tidak memperjuangkan rasaku untukmu? kembali pulang dan melakukan semuanya dengan instan? menembus hutan dan meninggalkan kuda berhargaku ditepi sungai hanya untukmu? atau mungkin memilih wanita lain yang ada di negeriku sendiri untuk kunikahi? itu sangat konyol. aku sangat bersyukur ketika aku sekarang bisa berada disini, melihatmu dari jauh. telah membuang perasaan tidak percayaku untuk menjemputmu disini. aku sudah disini. ini yang aku katakan aku benar-benar mencintaimu adalah saat aku benar-benar memperjuangkanmu tanpa menoleh apa dan siapa yang ada untuk menghalangi aku demi kau, puteri.

"selamat datang para pemuda dari 6 negeri yang berbeda. semua telah menjadi takdir kalian jika bersamaan bertemu ditempat ini. semua telah direncanakan jika kalian akan mencari puteriku sewaktu ia telah tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang ini." sang Raja mulai berbicara. "aku tak tahu bagaimana cara kalian untuk sampai ke negeri selatan yang aku perintah ini. negeri yang jauh dan negeri yang tidak dengan mudah bisa ditembus dengan satua tau dua hari perjalanan. terimakasih untuk kalian yang masih dengan setia ingin memenangkan hati puteriku." lanjutnya. "ada beberapa hal yang harus ketahui, jika semua yang kalian alami di perjalanan adalah bagian dari misi untuk siapa kalian bisa benar-benar memperjuangkan cinta kalian dengan sepenuh hati pada puteriku. yang aku ingin tegaskan ialah, kalian harus tahu jika masing-masing dari kalian memiliki "kuda putih" yang itu harus dipertahankan hingga kalian sampai disini."

sesaat hatiku tertekan. satu pertanyaan? "kuda putih?" kudaku juga kah?
beebrapa pria muda disana juga mulai kebingungan memikirkan kuda putih mereka. bahkan beberapa sempat bergumam, "kudaku sudah mati saat sebelum aku masuk ke hutan yang rimbun itu"

Raja menegaskan kembali dalam beberapa kata, "kuda putih itu adalah syarat kesetiaan kalian untuk puteriku." aku tetap terdiam. Raja kemudian melanjutkan, "nak," sebuah elusan kecil tangan sang Raja mengenai pundakku. aku menoleh. "selamat, kau yang berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan hati puteriku." jelasnya.
aku memandangi Raja selama beberapa waktu. masih tidak percaya akan hal itu. aku? memenangkan hatinya? hati puteri?
Raja kembali berkata dan mengajakku berdiri dihadapan jamuan makan malam terbesar di hari ulang tahu puterinya, "ini dialah orangnya. yang dengan setia mempertahankan perjuangan cintanya untuk puteriku. aku tahu perjalanan panjangnya dari negeri utara yang jauh itu membuatnya tak sekalipun "berpaling" untuk satu tujuan datang pada puteriku. selamat nak. aku sungguh bangga padamu. adakah yang ingin kau katakan?"

aku masih terdiam. tak mengerti dan tak tahu harus berkata apa. "saya.. saya hanya akan berkata jika saya sangat berterimakasih untuk semuanya. selama perjalanan menuju negeri selatan ini tentunya banyak rintangan yang saya hadapi. namun satu hal yang saya tahu jika semua tidak akan berakhir bahagia jika saya mengandalkan ego saya, dan saya mengandalkan keinstanan dunia yang ada. saya semakin diyakinkan saat bertemu orang-orang selama perjalanan kecil tersebut, semakin diyakinkan jika sebenarnya cinta adalah menganai satu perjuangan yang berharga. mungkin saja saya saat itu bisa "berpaling" ke orang lain atau pulang karena merasa lelah dengan perjalanan ini, mungkin saja saya merasa tidak akan mampu lagi untuk hal ini. namun pada kenyataannya hal-hal seperti itulah yang membuat saya "tidak goyah" dan terus berjuang untuk dia."

kemudian aku terdiam lagi sesaat. tidak ada lagi yang bisa aku katakan selanjutnya. semua yang terjadi berada diluar batas pikiranku. semua yang terjadi adalah "buah yang indah" dari perjuangan yang telah terlewati.
terimakasih untuk setiap orang yang pernah ada selama perjalanan kecil ini.
aku terdiam lagi.

---

sekarang, entah aku sudah tidak bisa mengungkapkannya lagi. smua terlalu bahagia. aku sudah mendapatkan "dia" puteri yang aku perjuangkan dari awalnya. selamat datang dipelukanku puteri, aku berjanji membuatmu bahagia.
dan terimakasih kuda putihku yang selalu dengan setia menemaniku :)



Senin, 21 Januari 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (6)

..
aku mondar-mandir ditepian sungai ini. memutar otakku perlahan untuk menemukan jawaban yang tepat. semakin kuputar keras semakin membuat rumit semuanya. aku buntu. aku hanya ingin jawaban.
anak gembala itu masih berada ditepian sungai dan dari kejauhan masih saja mengamatiku. aku masih memikirkan apa yang ia katakan sebelumnya mengenai cinta yang membutuhkan perjuangan. dan aku kembali ingat bahwa cinta yang kita akan perjuangkan janganlah secara instan kita lakukan. entah pikiran itu melayang berulang diatas kepalaku. membuatku semakin tak berdaya.

     "aku akan mencari, aku akan menemukan, aku akan mendapatkannya. dia.. dia sang putri yang aku nantikan, yang akan aku genggam tangannya, aku tak akan pernah mengecewakannya, aku akan membahagiakannya, aku akan melakukan semua yang terbaik demi dia. aku kan berjuang melewati semua ini, untuknya. kalaupun aku gagal, setidaknya aku sudah berusaha untuk dia. untuk menunjukkan ketulusan dan besarnya cinta ini melalui perjuanganku" gumamku perlahan. "YA AKU AKAN BERUSAHA YANG TERBAIK. TAK AKAN MENGECEWAKAN." lanjutku dengan genggaman erat kedua tanganku pada sebatang ranting kayu. "AKU AKAN BERJUANG. TIDAK PADA YANG INSTAN. YA"

aku membereskan perlatan kecil yang semalam aku pakai untuk membuat api dan memasak beberapa makanan pengganjal perut. aku menatanya kembali pada tas kulit milikku. dan sejenak aku gunakan waktuku untuk memandikan sang kuda putihku yang sudah nampak lusuh pada kulit putihnya.
kuda putihku itu diam. memandangiku yang perlahan membersihkan muka depannya dengan mengusap wajahnya dengan air sungai. tatapannya nampak begitu tajam. matanya berbinar, sedikir aku melihat ia tersenyum.
     "ada apa denganmu kuda kecilku? kenapa kau pandangi aku begitu?" tanyaku pada kuda putihku itu. aku tahu jika ia tak mungkin menjawab pertanyaanku.

tubuhnya sudah kembali bersih. kotoran hitam yang menempel di bulu halusnya sudah jatuh dan terhanyut oleh aliran air. aku memberikannya makanan rerumputan yang dicarikan oleh anak gembala tadi. dan aku menata bekal dan peralatanku pada punggung kuda putihku itu.
     "hai nak. sepertinya aku akan memutar dan tak melewati hutan ini." kataku pada anak gembala itu.
     "ternyata tuan jauh lebih bijaksana."
     "setelah aku pikir-pikir memang tidak baik meninggalkan sang kuda putihku yang sudah lama menemaiku ini." lanjutku.
     "baiklah tuan. jika tuan hendak melanjutkan perjalanan, negeri selatan sudah tidak lagi jauh dari sini, mungkin hanya satu hingga dua hari perjalanan. di depan akan ada padang rumput, lebih baik tuan membawa air dan makanan yang cukup karena disana sepi sekali. setelah itu tuan akan melihat sebuah persawahan dan perkebunan negeri selatan. barulah tuan menemui gerbang kota negeri selatan." anak gembala itu menasehatiku dengan tegasnya.
     "rupanya kau tahu tentang negeri itu ya?" tanyaku.
     "tidak tuan. ayahku hanya pernah menceritakan padaku dahulu. hati-hati tuan."

kemudian aku mengucapkan salam perpisahan dengan anak gembala itu. dibawah sinar langit sore, aku kembali melanjutkan perjalananku menuju negeri selatan.

satu atau dua hari perjalanan? ya benar. aku sudah melewati padang rumput yang begitu luas dan beberapa meter didepan aku melihat persawahan dan perkebunan negeri selatan. sebuah gerbang yang cukup tinggi sudah terlihat cukup jelas. mungkin itulah gerbang negeri selatan. dikanan dan dikiri terlihat perkebunan dan persawahan negeri selatan itu cukup subur. semua terawat dengan rapinya.
sinar lampu-lampu kota negeri selatan mulai terlihat. kerajaan mulai terlihat menjulang tinggi ditengah-tengah pusat kota. namun aku kembali mengistirahatkan tubuhku dan kudaku untuk malam ini, jalanan didepan nampak begitu gelap. akan sangat kesulitan jika aku memaksakan melanjtkan perjalanan diantara gelapnya malam ini. aku menyalakan perapian kecil untuk menghangatkan tubuh diterpa dinginnya malam ini, dan sinar rembulan kembali menerangi malam terakirku diperjalananku mencari sang putri.

"..aku sudah menunggumu.
aku meyakini jika kau pasti datang untukku.
aku tahu, jemarimulah yang nanti akan terkait dengan jemariku.
hatimulah yang nanti akan menjadi tempat terpautnya hatiku.
tahukah kamu, jika aku juga memimpikannmu?
memimpikanmu memelukku?
memimpikanmu menemaniku?
memimpikanmu tersenyum bahagia denganku?
yakinkah kau akan aku?
raih tanganku, genggam hatiku. jangan lepaskan.
maukah kau?.."


bersambung ..

Senin, 14 Januari 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (5)

..
apel yang menjatuhiku itu aku pungut dengan sukarela. sesekali perutku berbunyi menandakan bahwa ia sangat membutuhkan asupan nutrisi. satu demi satu apel yang jatuh itu aku pungut dan aku tata rapi di depan api unggunku yang sudah memadam. rupanya sejak semalam apel-apel itu berjatuhan, namun aku tak menyadari itu. gemercik air sungai itu begitu terasa menyegarkan, aku mengambil botol airku dan aku isi dengan air sungai yang bersih itu, kemudian aku berlari menuju kudaku yang duduk manis disana, aku membuka mulutnya, menuangkan setetes demi setetes kemulutnya, rupanya ia sangat kelelahan. 
     "hai kuda putihku, maafkan aku membawamu terlalu jauh."
matamu berbinar. seperti biasanya, kau tak pernah mengeluh saat denganku. kau selalu menurut padaku, pada setiap kataku.
aku kembali berjalan menuju dekat api unggunku, mengupas apel-apel itu untuk sarapan pagiku. sepotong demi sepotong, aku memakan apel itu.

diseberang sungai ini adalah sebuah hutan. hutan yang begitu rimbun dengan pohon-pohon tua yang besar. Raja pernah berkata padaku, jika negeri sang puteri ada dibalik hutan tersebut. dan hutan ini adalah jalan pintas menuju negeri selatan dimana sang puteri berasal. jika aku berhasil melewatinya, kelak aku akan lebih cepat sampai dihadapan puteri daripada kelima pemuda lainnya yang merupakan saningan terberatku saat ini.
aku membulatkan tekad, menuruti apa yang raja pernah katakan, melewati hutan yang rimbun ini dan sampai lebih cepat. namun aku kembali melontarkan pandanganku kedalam hutaan yang begitu lebat itu, begitu rapat, seolah hutan itu gelap, sinar matahari rupanya sulit menembus rapatnya daun-daun dan ranting-ranting yang besar dan tumbuh dengan suburnya itu.
kemudian keraguan kembali menghampiriku. mengajakku berpikir dua kali untuk masuk dan melewatinya. mungkin aku mampu masuk kedalam hutan itu? lalu bagimana kuda putihku? bukankah ia akan kesusahan saat berjalan di area yang sangat sempit itu. sedikit celahpun seolah tak ada untuk memijakkan kaki di tanah, yang ada hanyalah akar-akar pohon-pohon besar yang tua yang saling membalap untuk tumbuh besar.

aku menoleh pada si kuda putihku itu. aku tak tega jika demi keinginanku harus mengorbankan ia melewati hutan ini. jika aku membawanya melewati hutan ini tentunya akan memeprlambat langkahku, namun jika tidak aku melewati hutan ini, perjalanan jauh lebih panjang menuju negeri selatan.
aku terdiam.
sekawanan domba berlari menuju tepian sungai ini, beberapa diantaranya berhenti disamping kuda putihku yang sibuk mengunyah rerumputan segar pagi hari. seorang anak gembala berjalan agak jauh dibelakang kawanan domba-dombanya. ia terlihat masih anak-anak.

     "hai nak, kemarilah." terikakku padanya. entahlah aku tak tahu mengapa aku meneriakinya. kemudian anak gembala itu berlari menuju tempatku berdiam.
    "ya Tuan, ada apa? apa ada yang bisa saya bantu sehingga tuan memanggil saya?" tanyanya. "itu kuda putih Tuan sangat tampan. apakah saya harus mencarikannya makanan? saya lihat dia begitu berselera makan." lanjutnya.
     "oh tidak nak. aku hanya hendak bertanya padamu. apa kau tahu tentang hutan ini?" tanyaku pada anak  gembala itu.
     "oh, Tuhan hendak melewati hutan ini? hutan ini adalah hutan Rimba namanya. hutan yang paling tua diantara hutan-hutan lainnya. hutan ini begitu gelap Tuah. sangat mustahil untuk melewatinya." terangnya.
     "apakah kau tahu jika hutan ini menuju negeri selatan?" tanyaku lagi.
anak gembala itu mengangguk. "ya Tuan benar. hutan ini jalan pintas menuju negeri selatan. namun mustahil jika Tuan akan melewatinya."
     "mengapa?"
     "hutan ini sudah ribuan tahun menjadi gelap karena pada zaman dahulu ada seorang raja yang membuang berbagai tanaman dari negerinya, entahlah dari mana ia berasal. ia membuang segala tanaman yang ada di negerinya, karena negerinya terlalu hijau dan terlalu banyak tumbuhan yang hidup melebihi kapasitas pertumbuhan tumbuhan karena pupuk yang begitu mudah didapatkan, hingga negeri itu pun hampir tak terlihat dimana pusat kegiatan kota dilakukan. rajapun memutuskan untuk membuang segala tanaman yang tumbuh melebihi kapasitas pertumbuhannya ke tempat ini. dan ternyata tumbuhan-tumbuhan itu tumbuh semakin membesar, rimbun, dan rapat. demikianlah jadinya seperti sekarang, di dalam menjadi gelap. tak ada sinar matahari. dan udara juga begitu tak mendukung. belum seperempat perjalanan melewati hutan ini, banyak orang kembali. lebih baik memutar daripada mati di dalam." anak gembala itu bercerita.
     "siapakah Raja itu?" tanyaku.
     "tidak ada yang tahu Tuan. saat itu disini hanya beberapa saja penduduk yang menempati. dan seberang sungai ini bukan sudah berbeda wilayah." lanjutnya. "kalau saya boleh tahu apakah Tuan itu adalah pemuda yang emncari puteri negeri selatan?"
     "ya. darimana kau tahu?"
     "aku hanya menebak saja. barangkali benar. aku telah bertemu lima orang pemuda juga. dan mereka ingin menuju negeri selatan. dan mereka juga memiliki kuda-kuda putih seperti ini. aku seringkali disuruh memberikan makan kuda mereka. oh ya, mereka ke negeri selatan untuk mencari puteri."
     "oh. apakah kau juga pernah tahu tentang jalan pintas menuju tempat itu? maksudku negeri selatan itu?" tanyaku padanya.
     "lebih baik Tuan melewati jalan yang memutar dan jauh daripada mencari yang singkat. apakah sebuah cinta bisa didapatkan dengan cara yang singkat dan pintas tuan? tentunya tidak. cinta lebih banyak memperhitungkan tentang perjuaangan tuan yang akan menunjukkan betapa besar perasaan hati tuan pada sang puteri."
    "mengapa kau menasehatiku seperti itu? usiamu masih muda. belum tahu tentang cinta."
     "aku memang masih muda. namun aku sudah tahu banyak hal. dan yang aku sarankan adalah Tuan melewati jalan yang jauh namun jalan itu baik adanya. karena lima pemuda yang sebelumnya nekat melwati hutan rimba, entahlah bagaimana mereka, dua diantaranya meniggalkan kudanya ditempat ini hingga sakit dan hampir mati. dua diantaranya menitipkan kuda putih seperti itu pada saya. dan satu yang terakhir sebelum tuan berjalan bersama kudanya melewati hutan itu."

aku terdiam lagi. anak gembala ini terlalu bijak. apakah aku akan membawa kudaku melewati hutan ini atau aku harus memutar dan sedikit mulai kehilangan kepercayaan mendapatkan puteri karena aku harus datang terlambat padanya?

bersambung..

Jumat, 04 Januari 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (4)

..
aku mungkin hanya bagian kecil dari ribuan orang yang pernah datang dalam mimpimu.
aku mungkin hanya bagian kecil yang pernah kau lihat dari ribuan orang yang pernah lewat didepanmu.
aku mungkin hanya bagian dari mimpi masa depanmu kelak.
aku berjuang. berjuang dalam sebuah perjuangan untuk menemukan cinta sejatiku.
aku berlari. berharap aku mampu berlari sampai garis finish dan memenangkanmu.
dan aku tak akan tertatih untuk memperjuangkanmu.

tanganku menggapai jemarimu.
jemariku menyentuh lembut wajah cantikmu.
kau tersenyum.
wajahmu memancarkan aura yang begitu hangat.
kembali menyambut hangat senyumku.
"bisakah aku menggandeng tanganmu?" tanyaku.
dengan lembut senyummmu, kau mengangguk.
jari-jariku mulai mengikatkan pada jari-jarimu.
"bolehkah aku berkata sesuatu padamu?" tanyaku lagi.
kau mengangguk lagi.
"apakah kau mau menjadi temanku.."
kau terdiam.
"..teman yang menemani dalam hidupku selamanya? sampai maut memisahkan aku dan kau?" lanjutku.
wajah polosmu memancarkan percikan senyuman bahagia.
aku tersenyum. aku menunggu jawabmu.
"aku mau."
kau tersenyum padaku.
"aku mau menjadi temanmu. teman hidupku. maukah kau juga selalu menjadi penjagaku?" tanyanya.
aku tersenyum.
"aku mau."

jemariku mulai terkait dengan jemarimu.
bulatan kecil itu juga sudah terpasang di jari manismu.
itu benda kecil.
benda pengikat antara darahku dengan darahmu, selamanya.
aku mengajakmu berjalan. menuju kuda putihku berada.
kita bersama. menjalani kehidupan kita berdua.
ditemani kuda putihku yang setia.

----

aku terbangun dari tidurku. sebuah buah apel menjatuhi kepalaku. sakit sekali. lumayanlah untuk sarapan pagi ini. kali ini aku terhenti disebuah tepi aliran sungai yang begitu jernih, dan didepannya sebuah hutan yang begitu rimbun dengan tumbuhan-tumbuhan besar yang tua. kicauan burung-burung pagi menggairahkan diriku. sinar matahari menghangatkan diriku.
dan masih dengan setianya, disana kuda putihku.

aku mulai kembali bertanya, apa yang baru saja terjadi? dimana dirimu berada? dimana benda bulatan kecil yang saling melingkari di jarimu dan jariku? aku tidak menemukan.
aku tersadar. itu semua hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang menandakan bahwa aku begitu merindukan dirimu, puteriku.

bersambung..

Sabtu, 29 Desember 2012

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (3)

..
saat ini aku masih mencarimu, mencari dimana kamu berada dan kamu berasal. sesekali aku masih mengingat apa yang pria gagah itu sampaikan padaku, mengapa aku tak mencarimu melalui para peramal yang sudah tentu pasti tahu dimana keberadaanmu. mungkin ia benar. namun mungkin juga ia salah. aku berkecambuk dalam hati, akankah aku kembali dan menemui para peramal untu mencari tahu keberadaanmu, puteri? namun perjalanan sudah menyisahkan separuh dari keseluruhan. ya separuh dari ketidaktahuanku darimana kau berasal.

perjalananku kali ini sampai pada hamparan luas padang rumput yang begitu menghijau. angin yang berhembus terasa begitu kencang, sehingga sesekali jubahku harus terbang tinggi karena tertiup angin. kuda putih kesayangankupun sulit untuk diajak berjalan apalagi aku tunggangi. angin yang terlalu kencang ini membuatnya sulit untuk bergerak maju.
aku berhenti dibawah sebuah pohon besar yang cukup rindang. aku ikat kudaku pada batang pohonnya dengan kuat-kuat, dan aku duduk menikmati pemandangan padang rumput yang begitu mempesona ini.

tampak seorang dengan sekawanan dombanya berjalan mendekatiku. aku tersenyum melihatnya yang tersenyum padaku dari kejauhan. dia melambaikan tangan dan tongkatnya. dan beberapa dombanya terlihat harus diikat dengan tali yang begitu rapat.
     "permisi, bolehkah aku ikut duduk disini seraya aku menjaga domba-dombaku yang harus makan?" tanyanya dengan sopan.
        "mari, silakkan saja. disini bebas." jawabku seadanya saja.
       "oh terimakasih. rupanya anda bukan berasal dari daerah ini? saya jarang menemui orang seperti anda melewati tempat ini dan berteduh." terangnya sambil meletakkan tongkat kecilnya disamping kanannya.
       "oh ya, kebetulan saya hanya melewati saja."
       "sepertinya anda juga menempuh perjalanan yang jauh? saya boleh tahu mau kemana?" tanya pria penggembala domba tersebut.
       "saya hendak ke arah selatan. mencari negeri selatan. berpetualang dan berlelah untuk menemukan hati seorang puteri dari selatan." aku menjelaskan pada pria penggemabala itu.

beberapa saat pria penggembala itu terdiam. nampaknya ia sedang berfikir ssesuatu.
      "itu semua dombamu?" aku bertanya untuk mencairkan suasana yang diam beberapa saat itu.
    "oh, tidak. itu domba tuanku. aku hanya bertugas menjaga dan menggembalakannya." jawabnya. "soal negeri selatan? apakah kau mencari puteri yang baik hatinya itu?" tanyanya.
        "oh.." aku terdiam. "darimana kau tahu?" tanyaku.
     "oh, aku tahu karena aku sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki jawaban dan tujuan yang sama menuju negeri selatan untuk mencari puteri yang baik hatinya itu." terangnya.
       "mungkin kau harus berusaha sebaik mungkin, karena tidak hanya satu sainganmu. namun ada lima pria yang aku temui dengan misi sama sepertimu."

sejenak aku terdiam. aku tak ingin berkomentar apapun. lima? lima pria dengan misi yang sama sepertiku? mencari puteri yang baik hati dari negeri selatan? Tuhan. aku tak ingin melihat. sebesar itukah perjuangan yang kelak aku harus lewati? mungkin. namun aku tahu aku tak boleh menyerah soal hal ini. aku harus berjuang sesuai kemampuanku. aku tahu aku mampu mendapatkan dia. puteri, tunggu aku.

lalu, masih sedikit terlintas dibenakku, akankah aku mencari peramal untuk bisa memenangkan hatinya setelah aku tahu dia sama-sama dikejar oleh lima pemuda lainnya? sepertinya, lebih baik aku mengalah daripada aku mengikuti saran pria gagah yang aku temui di bar beberapa minggu yang lalu.

hening.

bersambung ..

Sabtu, 22 Desember 2012

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (2)

..
aku masih berada pada seperempat perjalanku untuk mencarimu, puteri.
seperempat perjalanan yang mungkin jika aku rasakan aku begitu kelelahan. namun saat aku kembali mengingat bayangmu, aku mampu kembali melanjutkan. kini aku masih terus berjalan bersama kuda putihku yang setia menemaniku mencarimu.

kali ini aku tiba disebuah pusat kota negeri lain yang tak aku ketahui namanya. negeri ini cukup ramai dengan banyaknya pedagang yang dengan asiknya menjual dan menawarkan segalanya. aku terhenti. untuk kembali mencari tempat peristirahatan sejenak sebelum aku melanjutkan kembali perjalanku untuk mencarimu.

     "hai, pemuda, sedang apa kau disini?" sapa seorang pria muda yang gagah berdiri disampingku.

  "oh, maaf. saya rasa saya menempati kursi anda" jawabku dengan tersenyum, dan aku berdiri. mempersilakkan pria muda yang gagah itu untuk duduk.

     "oh, tidak. aku tidak ingin duduk. aku hanya mengamatimu dari kejauhan. kulihat kau kelelahan. mari ikut aku masuk ke dalam bar, sejenak meminum kopi bersama. karena aku tak terbiasa meminum kopi sendirian."


aku menerima tawaran pria itu, dan mengikuti dia masuk dalam bar untuk menikmati secangkir kopi. langit mendadak berubah menjadi gelap. dan hujan turun dengan derasnya diluar. aku gelisah.

    "sedang apakah kau melihat keluar? gelisah ya? hujan seperti ini tak akan berhenti dalam waktu cepat. sudah tenanglah, kuda putihmu juga sudah berada pada tempat yang aman." jelas pria itu padaku. aku tersenyum. "kalau aku boleh tahu, dari mana kau berasal dan akan pergi kemana?"

    "oh, saya berasal dari negeri Utara dan akan menuju Selatan untuk mencari seseorang" jawabku.

     "bolehkah aku tahu kau akan mencari siapa?"

    "aku mencari seorang puteri yang aku tak tahu negeri asalnya, aku hanya berbekal dia tinggal di Negeri Selatan. ini kesempatan ku mencarinya."

   "pasti dia sangat cantik rupawan sehingga kau mau mencarinya sendiri. apakah kau sangat mencintainya? kau mengenalnya dengan dekat?" tanya pria itu sambil meneguk kopinya.

   "aku tahu namanya, aku tahu beberapa hal tentangnya. hanya saja aku belum siap untuk mengatakan dan mendekatinya lebih jauh."

     "aku tahu kau begitu mencintainya, seharusnya kau cari tahu segala informasinya dengan lengkapnya, bukankah dinegeri asalmu banyak peramal? sehingga kau tahu bagaimana ia dan keluarganya, dimana ia tinggal, lalu kau bertindak mendekati hatinya dan mendekati hati keluarganya, kemudian kau katakan yang sebenarnya. aku yakin itu tak akan lama seperti kau harus berjalan atau menunggangi untuk pergi mencari informasinya seperti ini" terang pria itu dengan bangganya. "itu tak tikku menaklukkan wanita yang aku suka, dalam sebulan aku mendapatkannya." lanjutnya.


aku terdiam.
kegalauan itu semakin merajalela dalam hatiku. namun aku tahu tak semudah itu mendapatkan sebuah cinta sejati yang aku mau. mencari informasi lengkapnya dengan mengandalkan peramal? itu hal bodoh menurutku. terlalu instan. aku tak ingin mendapatkan cintanya hanya semudah itu. aku butuh apa yang disebut perjuangan agar dia tahu perasaanku.
mungkin pria itu berkata dengan mudahnya karena ia merupakan tipe orang semudah itu untuk mendekati siapa yang ia incar. sedangkan aku? aku jauh memikirkan bagaimana perasaannya juga saat semua yangs erba instan itu aku lakukan, apakah dengan semudah itu ia akan suka denganku? akan menerima semuanya dengan baik? mempersilakkan hatiku menggapai hatinya? yang aku tahu, tidak semua wanita seperti itu.

aku tak tahu lagi harus bagaimana. pikiranku pecah.

bersambung ..

Sabtu, 01 Desember 2012

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (1)

aku masih saja berdiam disudut sebuah kota yang mati.
tanpa ada seorangpun yang lewat untuk mencari.
ditemani oleh kuda putihku yang dengan setia mau kutunggangi kemanapun aku arahkan ia untuk pergi.
perjalananku msih panjang, tidak kan berakhir sekarang.
aku masih mencari "dia", wanita yang aku cari untuk menemani perjalanan hidupku kelak.

aku sudah tahu siapa dia. aku sudah banyak mengenal lewat informasi banyak rakyatku dimana aku tinggal.
aku meninggalkan negeriku, demi mencarinya. mencari seoraang puteri yang begitu dihormati dan dikenal dibanyak negeri. aku pergi untuk mencarinya, aku pergi untuk mendapatkannya, dan mendapatkan hatinya.
yang aku dengar, dia begitu rupawan. dia adalah puteri negeri seberang yang baik hatinya pada semua orang, tak mengenal siapapun yang ia temui, ia selalu baik pada mereka.
aku terkagum.
aku ingat beberapa waktu sebelum aku menjadi seorang pangeran, aku pernah bertemu dengan dia dibeberapa moment penting. namun aku masih saja diam dan seolah tak ingin tahu siapa dirinya.
sejak kabar kebaikannya menguasai seluruh negeri, aku kembali teringatkan akan dirinya, tidurku kembali tak nyaman, aku mulai geram. entah, hanya mendengar namanya saja, aku sudah tak tenang, aku selalu merindukannya dalam malam. dan saat aku bermimpi, aku bermimpi telah bersanding dengannya.
mimpi yang aku alami membuat tekadku kian bulat mencarinya, mengenalnya, dan membawa ia pulang kenegeriku kelak, akan berdampingan denganku.

jalanan ini masih awal dari keseluruhan. padang rumput, padang gurun, hutan yang hitam, dan jurang yang dalam belum aku tempuh begitu rupa untuk mencarinya.
aku tengok kuda putihku yang setia menemaniku, aku bertanya, "masih maukah kau dengan setia menemaniku mencarinya? hingga aku mendapatkannya?"
terlihat wajah kudaku tersenyum. aku juga tersenyum.
aku kembali melanjutkan langkahku, meninggalkan kota mati tanpa penghuni ini. terlalu membuang waktu jika aku berlama-lama disini. aku ingin cepat bertemu dengannya. dan mengenalnya jauh lebih dalam.
suara langkah kaki kuda putihku mulai terdengar cepat, berlalu dan semakin cepat.
dalam anganku bertanya, "dimanakah dirimu sekarang puteri?" karena aku tak tahu dimana kerajaanmu berasal. dan tak ada yang tahu arah mana jalan panjang ini menuju tempatmu tinggal dan memerintah.
dalam pikiranku berkecambuk teringat namamu, teringat wajahmu yang sempat tersenyum padaku dalam diam diantara kita berdua.
dalam hatiku, getaran itu semakin dalam, semakin aku ingin lepas, getaran itu semakin mengikatku, mengikat jiwaku untuk terus setia mencari, mengejar, dan mendapatkan hatimu ..

bersambung..
 
❤︎ Blogger Template by Ipietoon Blogger Template