Jumat, 19 Desember 2025

Hai, Akhir 2025!

"Tidak apa-apa, Aku masih beserta." 
Satu kalimat yang bagiku memiliki banyak sekali makna untuk menguatkan diriku sendiri. 

Hai.
Aku melirik kalender diujung kanan bawah laptop pagi ini, ya tanggal 19 Desember 2025. Entahlah, angin apa yang membawaku tiba-tiba merindukan rumah ini. Empat tahun lamanya aku tinggal sendirian dan pagi ini aku membukanya dengan membawa banyak sekali benang-benang kusut dikepala. Kadang, mengingat rumah ini dan ingin mengisi, namun lebih banyak kuhabiskan untuk tidur dan melakukan kegiatan lainnya agar diri ini tidak sampai jatuh terjun bebas ke dalam lubang stressnya. Lalu, lupa akan benang-benang kusutnya dan kembali melakukan rutinitas biasanya. Berulang dan berulang.

Tiba-tiba, sudah akhir 2025 saja ya.
Dan, ya aku masih begini saja adanya. Tanpa banyak perubahan yang berarti dimata orang lain, bahkan dimataku sendiri. Hahaha. Satu yang berubah adalah setahun belakangan aku sedikit lebih aktif dalam pelayanan di gereja, meskipun terkadang untuk datang di pagi hari saja masih malas. Oh Tuhan, maafkan aku. Setidaknya, aku mengingat kata orang-orang, "Aku mau melayani, aku mau bertumbuh, dan aku mau dibentuk."

Akhir 2025 dan aku masih begini saja adanya.
Teman-teman datang dan pergi. Datang satu, pergi satu. Datang dua, pergi dua. Bahkan datang pun tidak ada namun yang pergi justru lebih banyak. Hm, tidak apa-apa. Dewasa adalah bagian dari kita beproses untuk tetap berteman atau tidak lagi, tanpa adanya paksaan. Baik yang pergi maupun yang tinggal atau yang sedang dalam masa berpisah, aku rasa semua ada waktunya. Pada akhirnya, aku hanya bisa mengikuti alurnya, entah alur yang aku buat atau alur yang bukan aku pembuatnya.

Akhir 2025 dan aku masih begini saja adanya.
Usia bertambah, walaupun juga bisa disebut berkurang. Merasa semakin tidak lagi muda. Badan sedikit menuju jompo, hahaha. Dan aku bersyukur setahun ini hanya beberapa kali saja batuk dan pilek (dan yang terparah Oktober lalu hingga sedikit demam dan suara hendak hilang) namun, aku bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kesehatan pada diriku dan juga keluargaku sampai hari ini. Bahkan sekalipun aku masih begini saja adanya, aku bersyukur bahwa keluarga selalu Tuhan limpahkan berkat yang luar biasa. Bapak dan ibu sehat, baik, dan selalu bahagia. Terima kasih untuk hari baru, usia baru, kesehatan baru, dan hal-hal atau kesempatan baru untuk kami.

Akhir 2025 dan aku masih begini saja adanya.
Ada impian-impian yang masih menggantung dan belum Tuhan jawab. Ada doa-doa yang masih dipanjatkan dan Tuhan belum menjawab juga sampai hari ini. Rupanya, Tuhan belum memberi tanda check list pada setiap impian, harapan, ataupun doa-doa itu. Baiklah, setidaknya tidak apa-apa. Selama Tuhan selalu mengingatkan untuk tetap kuat, sabar, dan tidak lelah dalam hal menanti setiap janji-Nya di dalam kehidupan ini.
Sekiranya aku boleh bertanya, apakah di 2026 nanti Tuhan akan mulai mewujudkan satu per satu dari apa yang aku naikkan? Ya, semoga Tuhan berkenan. Tuhan yang tahu isi hati, aku tahu bahwa Tuhan sendiri yang kelak akan melengkapi.

Baiklah, akhir 2025 tidak lama lagi. Sekalipun setahun belakangan ini semuanya masih tetap sama dan begini saja adanya, izinkan aku berterima kasih karena Tuhan begitu baik padaku sampai hari ini. Aku tahu bahwa tangan Tuhan senantiasa memegang kendali atas segala yang ada dan terjadi. Mampukan aku juga untuk terus dan semakin setia disamping-Mu, ya.



Tulisan ini ditulis karena hari ini tiba-tiba merasa sedih dan mendadak membandingkan kehidupan ini dengan orang lain. Di saat orang lain masing-masing mulai memberi tanca check list pada setiap impiannya dan aku belum sampai di titik itu sampai di akhir tahun ini. Kata Tuhan, "Tidak apa-apa, Aku masih beserta." Ya, benar tidak apa-apa, karena aku masih punya banyak hal baik untuk disyukuri hari lepas hari.

Terima kasih, Tuhan Yesus baik!


Minggu, 22 Agustus 2021

Rasa Syukur akan Kebaikan Tuhan

#DeepTalk: Cahya H. Herlambang

Aku menghabiskan sebagian besar hari Sabtuku dengan berbincang manis dengan Cahya melalui WhatsApp. Aku rasa hampir sebulan lebih kami tidak saling berbicara karena kesibukan masing-masing. Pada banyak hal, aku merasa ketika aku berbincang dengannya aku merasa lebih tenang. Ya, terkadang tidak semua hal rumit yang ingin aku ceritakan dengan mudah kubagikan. Nyatanya, berbeda jika aku berbincang dengannya, hal rumit dan mendalam terasa lebih melegakan setelah kubagikan melalui ceritaku padanya.

Cahya, bukan orang yang selalu memarahiku ketika aku bercerita dan membutuhkan sarannya. Dia bukan orang yang memberikan ceritanya ketika aku akan bercerita. Bagiku, Cahya adalah salah satu ruang untuk aku berbagi.

Kemarin Cahya bercerita bahwa keluarganya yang ada di Jogja baru saja selesai isoman (isolasi mandiri) yang dikarenakan infeksi COVID-19. Cahya bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan berkat kesehatan dan kesembuhan bagi keluarganya sekalipun COVID-19 telah membuat banyak perubahan di dalam kehidupan keluarganya, seperti membatasi sejenak waktu berkunjung ke Jogja karena adanya pembatasan sosial.

Cahya dan aku, sebagai manusia pasti pernah berada di titik di mana masa sulit ini belum juga berakhir. Kadang kala terlalu dipikirkan membuat kita semakin stres menjalani hari-hari. Tetapi, jika kita semakin tenggelam dalam rasa lelah yang berkelanjutan, kami tidak akan menjadi kuat untuk tegap berdiri.

Saat ini, bertahan adalah cara terbaik untuk tetap berdiri dalam segala kondisi. Sebisa mungkin mempertahankan diri ini untuk tetap berpijak pada jalurnya. Berusaha untuk tidak merepotkan orang lain sekalipun merasa membutuhkan pertolongan. Berusaha untuk berpikiran positif agar apa yang dijalani tetap terasa penuh sukacita meski tidak dalam keadaan yang sepenuhnya baik.

Di bagian cerita yang lain, Cahya berbagi cerita tentang hal tetap berusaha berbagi dengan orang lain, sekalipun sedang di masa sama-sama membutuhkannya. Meskipun, kadang kala beberapa orang malah menyepelekan hal baik yang dibagikan dengan menjadikannya sebagai ‘rumah’ untuk beberapa kebutuhan yang diperlukan. Hahaha, malah diandalkan secara terus-menerus. Tetapi, sesekali kita juga boleh untuk menolak. Menolak bukan berarti tidak menolong, tetapi mencoba untuk memberinya jalan dengan berpikir akan hal lain yang dapat dilakukannya, selain dengan mengandalkan kita sebagai rumah seperti sebelumnya.

Perjalanan kehidupan yang telah bertahun-tahun dilalui, selain mengajarkan untuk bertahan di berbagai kondisi, berbagi dengan orang lain, juga mengajarkan kita untuk berjuang (tidak menyerah dengan mudah) tanpa mengeluh tetapi dengan mencari pemecahan masalah atau solusi. Itulah bagaimana cara Tuhan membentuk kita menjadi semakin kuat hari demi hari. Percayalah, tidak ada satu pun hal yang terjadi tanpa membawa adanya kebaikan.

Serumit dan seberat apa pun yang sedang kita lalui saat ini, tidak lepas tangan Tuhan untuk tetap menyertai kita melewati setiap badai. Bersyukurlah, seperti Cahya bersyukur atas kesehatan yang diberikan kepada dia dan keluarganya sampai hari ini. Bersyukur atas pekerjaan sekecil apa pun yang tidak lepas dari berkat yang mengiringi.

Ada banyak hal di dalam kehidupan yang pelik yang masih menyisakan ruang untuk rasa syukur atas setiap kebaikan Tuhan.

Terima kasih kepada Cahya yang datang sebagai cara Tuhan untuk mengingatkanku untuk terus mensyukuri tentang segala kebaikan Tuhan, baik saat suka maupun duka, baik saat sehat maupun sakit, atau bahkan saat seolah kita sedang memiliki berkat yang sedikit.


 
❤︎ Blogger Template by Ipietoon Blogger Template