Masihkah kau bertanya, siapa yang menjatuhkan hatiku tepat di hatimu?
Aku. Akulah jawabannya.
Jangan tanya, apa yang sedang aku pikirkan. Untuk menghitung waktu, lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Lima tahun itu waktu yang begitu sulit dibayangkan, apalagi sampai aku bisa sampai sejauh ini berusaha menutup dan menghapus, bahkan memendam untuk tidak lagi mengingat satu halpun tentang apa yang pernah aku jatuhkan dalam hatimu.
Kenyataannya, ini adalah sia-sia. Namun, apa boleh buat saat sesuatu membuatnya nge-flashback kembali moment-moment kala itu. Sesekali membuatnya tersenyum bahkan berkhayal dari sesuatu yang sudah hingga yang kelak.
Aku tidak menyalahkanmu, hadir. Aku juga tidak membencimu, saat kau kembali. Tetapi, ada hal lain yang harus aku lakukan secara berulang untuk tidak lagi kembali, ya melupakanmu. Melupakan segala rasa dan hati yang pernah aku berikan untuk aku mencintaimu, sekalipun hati yang kau miliki tidak tahu bagaimana bisa hatiku mencintaimu.
Bisakah Tuhan membantuku untuk memungut hatiku yang masih kutinggalkan dalam lubuk hatimu? Hati yang selalu berada paling bawah setelah hatimu untuknya? Aku hanya ingin memperbaiki diriku untuk mencintaimu, bukan mencintaimu seperti seorang yang jatuh cinta. Namun mencintaimu dalam sebuah kata pertemanan? Bisakah?
Senin, 28 September 2015
Kamis, 25 Juni 2015
Mimpi Semalam
Semalam, tanpa aku mau, mimpi itu kembali datang. Mimpi yang sudah berbulan-bulan pergi, semalam kembali. Aku tidak terlalu menikmati apa yang terjadi, tidak terlalu kuikuti seperti aku sangat penasaran sebelumnya. Yang aku tahu, ada dia disana, walau kita tak berbincang panjang, walau kita tak saling berbicara.
Masih sama seperti kenyataan yang sedari dulu terjadi, kita tidak banyak bicara meski kita saling mengenal. Meski aku sadar akan kehadiranmu, tetapi sapaan sederhana itu tidak lagi muncul, karena masih tetap sama jika aku memang bukan yang terbaik yang selalu memberimu sapaan.
Aku juga sudah tidak lagi berharap, harapan itu sudah sirna seiring jalannya waktu, meski sesekali aku katakan dengan wajar aku masih ingin tahu keadaanmu. Siapa yang tidak ingin tahu keadaan seseorang yang dulunya pernah membuatnya jatuh hati? walau sesekali?
Haha. Kurasa mimpi itu memang hanya bunga tidur yang tidak perlu diperhatikan terlalu dalam. Terimakasih semalam, kita bertemu dalam mimpi, meski tetap saling diam seperti saat-saat terakhir beberapa tahun yang lalu kita berpapasan, setidaknya mengobati rasaku yang sudah lama tidak terjawab. Terimakasih, meski aku tak bisa berucap langsung denganmu, menanyakan keadaanmu, tetapi aku selalu berucap dalam doa pada Sang Pencipta, agar kau tetap bahagia.
Masih sama seperti kenyataan yang sedari dulu terjadi, kita tidak banyak bicara meski kita saling mengenal. Meski aku sadar akan kehadiranmu, tetapi sapaan sederhana itu tidak lagi muncul, karena masih tetap sama jika aku memang bukan yang terbaik yang selalu memberimu sapaan.
Aku juga sudah tidak lagi berharap, harapan itu sudah sirna seiring jalannya waktu, meski sesekali aku katakan dengan wajar aku masih ingin tahu keadaanmu. Siapa yang tidak ingin tahu keadaan seseorang yang dulunya pernah membuatnya jatuh hati? walau sesekali?
Haha. Kurasa mimpi itu memang hanya bunga tidur yang tidak perlu diperhatikan terlalu dalam. Terimakasih semalam, kita bertemu dalam mimpi, meski tetap saling diam seperti saat-saat terakhir beberapa tahun yang lalu kita berpapasan, setidaknya mengobati rasaku yang sudah lama tidak terjawab. Terimakasih, meski aku tak bisa berucap langsung denganmu, menanyakan keadaanmu, tetapi aku selalu berucap dalam doa pada Sang Pencipta, agar kau tetap bahagia.
Dariku, dari seorang yang kau datangi semalam.
Label:
Cerita yang Lain
Langganan:
Postingan (Atom)