Selasa, 26 Agustus 2014

Kita Tidak Akan Pernah Tahu

Kita tidak akan pernah tahu, seberapa jauh dan seberapa lama rasa itu bertahan di dalam diri kita.

Sesekali, butuh waktu untuk segera menjauh. Bahkan butuh orang yang dengan segera siap untuk menggantikan posisi dari orang yang sebelumnya. Namun, siapa bisa menyangka ketika takdir mengharuskan seperti ini. Mungkin aku salah jika aku menyalahkan takdir, harusnya aku lebih menyalahkan diriku sendiri yang tidak bisa dengan baik pergi berlari dari sosokmu, dikala dirimu sudah pergi bahagia dengan yang lain.

Aku butuh kamu. Namun sepertinya ungkapan itu sia-sia. Tidak akan pernah ada dirimu yang aku harap untuk ada itu benar-benar ada. Aku selalu menikmati hari-hariku sendiri, sendiri tanpa ada wajahmu (lagi) yang menghiasi lagi langit-langit senyumku. Perasaan itu masih aku biarkan mengalir dengan alami sejak hari kau benar-benar membuatku terkagum akanmu, namun perasaan itu sampai saat ini masih belum menemukan ujung dimana ia harus berhenti dan diam untuk selamanya.

Aku juga tahu, kebahagiaanmu sudah ditentukan dan diukur saat kamu berjalan seirama dengannya, bukan denganku. Bukan hakku untuk melarang itu, merelakanmu pergi untuk kebahagiaanmu adalah cara baik yang bisa aku lakukan, meskipun sesekali dahulu itu, aku mengumpat dibelakang karena belum bisa membiarkanmu pergi dengannya. Sekarang, apa lagi yang harus aku umpat dibelakangmu ketika aku sudah semakin tahu kamu memang dengannya? Bibirku menampakkan senyumnya, namun sebenarnya matakulah yang bekerja keras untuk berusaha menahan air yang akan keluar dari tiap rongganya.

Biarkan aku bahagia. Bahagia dengan apa yang aku rasa sekarang, sekalipun aku tahu, jika kamu tidak akan pernah mau tahu akan kebahagiaanku. Berjalanlah dengannya, berjalanlah semakin seirama. Doakan saja aku, segera melupakanmu dan tidak lagi membiarkan air mataku mengalir dengan sia-sia. Karena baik aku ataupun kamu, kita tidak akan pernah tahu jika perjalanan perasaan itu akan seperti ini.

Rabu, 23 April 2014

#23

selamat datang harimu.
untaian kata inilah yang bisa aku rangkai.
tidak banyak aku ingin katakan.
sedikitnya hanya satu kalimat saja, dan setidaknya aku harap bukan hanya Tuhan saja yang mendengar.
tapi kamu, kamu yang sedang berbahagia dihari ini.
angka pertama yang menemani angka dua-mu, semoga menjadi kawan terbaikmu setahun kedepan.
menemani pertumbuhanmu, bukan soal psikologis saja, namun soal imanmu.
sekali lagi aku hanya bisa menyerukan, dan menulis berulang angka dua puluh tiga itu. aku memang tidak banyak berharga dimatamu, tetapi aku adalah yang selalu mencoba mendoakanmu dari jarak yang jauh, yang tidak pernah kau tahu.
sekali lagi, dua puluh satu untuk dua puluh tiga-mu.
semoga berkesan. karena untaian kataku tidak sebanyak sebelum-sebelumnya.
semoga Tuhan menyampaikan untuk dua puluh tiga itu.
dua puluh tiga yang sekarang sudah menjadi dua puluh satu.
selalu dan masih saja sama setiap tahunnya.
sejak hari itu, sejak tiga tahun lalu.
masih aku.
masih aku yang senantiasa mendoakanmu dari jauh.
selamat hari rajamu, dua puluh tiga,


 
❤︎ Blogger Template by Ipietoon Blogger Template